Di kaki pegunungan Mutis, tepatnya di Fatumnasi, semangat belajar anak-anak SMP Kristen 2 Mollo Utara tumbuh dalam kesederhanaan. Jarak yang jauh, keterbatasan fasilitas, dan minimnya sarana pendukung bukan hal baru bagi mereka. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tetap hidup: harapan.
Pada Oktober 2025, harapan itu mulai menemukan jalannya.
Melalui Program Inisiatif Harapan Alam Tahap 1 yang dikenal sebagai Beasiswa Tunas Fatumnasi, sebuah langkah kecil diambil untuk menjawab kebutuhan dasar para siswa. Program ini tidak datang dengan janji besar, tetapi dengan kepedulian yang nyata—menyentuh hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian.
Perlengkapan sekolah yang layak.
Alat musik untuk mendukung kreativitas.
Dan yang terpenting, kehadiran yang membawa semangat baru.
Bagi sebagian orang, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anak-anak di Fatumnasi, itu adalah sesuatu yang berarti. Perlengkapan sekolah bukan hanya alat belajar, tetapi simbol bahwa mereka diperhatikan. Alat musik bukan sekadar hiburan, tetapi ruang untuk mengekspresikan diri dan membangun kepercayaan diri.
Hari-hari di sekolah pun mulai terasa berbeda.
Ada antusiasme yang tumbuh perlahan. Ada semangat yang semakin terlihat. Dan ada hubungan yang mulai terjalin—bukan hanya antara pemberi dan penerima bantuan, tetapi antara harapan dan masa depan yang sedang dibangun.
Program ini juga membuka pintu kolaborasi yang lebih luas. Hubungan yang terbangun antara tim pelaksana dan pihak sekolah menjadi fondasi penting untuk langkah berikutnya. Dari sinilah lahir keyakinan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dari kepedulian yang konsisten.
Tahap 1 mungkin telah selesai, tetapi dampaknya masih terasa.
Ia tidak hanya menghadirkan bantuan, tetapi menanamkan sesuatu yang lebih dalam—sebuah keyakinan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Dan dari Fatumnasi, tunas-tunas harapan itu mulai tumbuh.

