“Kalau hujan datang, kami selalu was-was. Pokoknya dia pu kondisi dari dulu begini sudah. Tapi mau bagaimana lagi. Kalau bukan di tempat ini, kami mau ibadah dimana lagi?”
Demikian disampaikan Ebed Oematan, penanggung jawab GMIT Maranatha Hautoi saat bertemu dengan tim dari Yayasan Ratu Pencinta Damai beberapa waktu lalu. Bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, beribadah bagi jemaat bukan hanya soal iman, tetapi juga tentang menghadapi ketidakpastian.
“Atap bocor, air masuk… kadang kami harus berhenti ibadah,” lanjutnya.
Selama kurang lebih 12 tahun, jemaat harus menerima kenyataan bahwa gereja yang mereka miliki tidak pernah benar-benar berdiri kuat. Terpaan angin kencang yang datang setiap musim hujan berkali-kali merobohkan bangunan sederhana itu—bahkan hingga enam kali.
“Kami hanya bisa perbaiki seadanya. Tidak ada biaya lebih,” ungkap Rian, salah satu jemaat yang turut merasakan langsung kondisi tersebut.
Dalam keterbatasan, mereka tetap bertahan. Tetap datang. Tetap berdoa.
Namun harapan untuk memiliki gereja yang layak hanya tersimpan dalam doa yang sederhana—dipanjatkan berulang kali, tanpa kepastian kapan akan terjawab.
Hingga suatu hari, mereka tidak lagi hanya berdoa.
Mereka mulai melihat harapan itu datang.
Yayasan Ratu Pencinta Damai hadir dan melihat langsung kondisi yang mereka alami. Dari pertemuan itu, jemaat mulai merasa bahwa perjuangan mereka akhirnya dilihat.
“Kami sangat bersyukur waktu yayasan datang. Kami merasa tidak sendiri lagi,” ujar Elsa, dengan suara yang penuh haru.
Sejak saat itu, proses panjang pun dimulai.

Yayasan Ratu Pencinta Damai mengambil peran dalam menginisiasi pembangunan, menghubungkan kebutuhan jemaat dengan para donatur melalui Kitabisa, serta mendampingi setiap tahapan yang harus dilalui. Dukungan mulai mengalir, dan harapan yang dulu terasa jauh perlahan menjadi nyata.
Dalam prosesnya, banyak pihak turut terlibat.
Tentara Nasional Indonesia bahkan hadir langsung di lapangan, bekerja bersama masyarakat dan relawan. Mereka tidak hanya membantu, tetapi ikut membangun—batu demi batu, bagian demi bagian.
“Kami kerja sama-sama. Rasanya seperti membangun rumah kami sendiri,” kenang Rian.
Dan kini, cerita itu telah berubah.
Gereja GMIT Maranatha Hautoi berdiri kokoh.
“Sekarang kalau hujan, kami tidak takut lagi,” ujar Elsa dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
“Kami bisa ibadah dengan tenang.”
Perubahan itu sederhana, tetapi sangat berarti.
Bagi jemaat, gereja ini bukan hanya tempat berkumpul. Ia adalah jawaban dari doa yang mereka simpan selama bertahun-tahun.
Dan bagi Yayasan Ratu Pencinta Damai, ini adalah bagian dari panggilan untuk terus hadir—mendengar, melihat, dan mengambil bagian dalam menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Ketua Yayasan Ratu Pencinta Damai, Virgo, menyampaikan bahwa setiap langkah yang dilakukan berangkat dari kepedulian yang sederhana namun tulus:
“Kami hanya ingin memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam keterbatasannya. Ketika banyak orang mau peduli, hal yang tampak sulit pun bisa kita wujudkan bersama.”

