Hari-hari Nenek Sisilia dahulu berjalan dalam sunyi yang panjang. Di Desa Oesana, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara NTT, Nenek Sisilia tinggal seorang diri.
Di usianya yang telah menginjak 70 tahun, ia tinggal seorang diri di sebuah rumah berdinding tanah yang rapuh—berlubang, lapuk, dan nyaris roboh. Tidak ada keluarga yang mendampingi. Tidak ada tempat berbagi. Hanya kesunyian dan keterbatasan yang setia menemani.
Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan jagung yang diolah seadanya. Makan sekadarnya, hidup seadanya.
Namun yang paling berat bukan hanya soal kekurangan, melainkan kondisi tempat tinggal yang semakin tidak layak. Udara dingin dengan mudah masuk melalui celah dinding. Tanah menjadi alas tidur setiap malam, hanya berlapiskan tikar lusuh. Di tengah kondisi itu, gangguan pernapasan yang ia alami semakin memperparah keadaan.
Hari-hari terasa panjang. Malam-malam terasa dingin.
Hingga suatu saat, kabar tentang kondisi Nenek Sisilia sampai kepada Yayasan Ratu Pencinta Damai.
Tanpa menunda, yayasan bergerak.
Melalui proses survei dan verifikasi di lapangan, tim memastikan kondisi yang dihadapi benar adanya dan membutuhkan penanganan segera. Dari situlah, Yayasan Ratu Pencinta Damai menginisiasi program bantuan pembangunan rumah layak huni sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap sesama yang hidup dalam keterbatasan.
Proses pembangunan pun dimulai.
Yayasan tidak berjalan sendiri. Bersama para relawan dan pihak-pihak yang turut peduli, proses ini dijalankan secara bertahap—mulai dari perencanaan, pengadaan material, hingga pembangunan fisik rumah. Setiap tahap menjadi wujud kolaborasi dan gotong royong yang menghadirkan harapan baru bagi Nenek Sisilia.

Sedikit demi sedikit, rumah itu mulai berdiri.
Bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai simbol bahwa masih ada yang peduli.
Dan hari itu pun tiba.
Rumah baru kini telah berdiri kokoh—lebih layak, lebih bersih, dan lebih aman untuk ditempati. Yayasan memastikan bahwa rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang lebih sehat bagi Nenek Sisilia.
Kini, ia tidak lagi harus menghadapi malam dengan dingin yang menusuk. Ia memiliki tempat untuk beristirahat dengan lebih nyaman, menjalani hari dengan rasa aman, dan menikmati hidup dengan ketenangan yang sebelumnya terasa jauh.
Dengan suara lirih penuh haru, Nenek Sisilia mengungkapkan rasa syukurnya:
“Terima kasih. Saya su bisa tinggal di rumah baru.”
Perubahan itu nyata.
Dan di balik perubahan itu, ada peran banyak tangan yang tergerak—yang memilih untuk tidak diam melihat penderitaan sesama.
Ketua Yayasan Ratu Pencinta Damai, Virgo, menegaskan bahwa apa yang dilakukan bukan sekadar bantuan, melainkan panggilan kemanusiaan:
“Kami percaya, setiap orang berhak hidup dengan layak. Kehadiran kami adalah untuk memastikan bahwa mereka yang lemah dan terpinggirkan tetap memiliki harapan.”
Bagi Nenek Sisilia, rumah ini bukan sekadar bangunan.
Ia adalah bukti bahwa ia tidak sendiri.
Dan bagi Yayasan Ratu Pencinta Damai, ini adalah bagian dari komitmen untuk terus hadir—menjadi jembatan harapan bagi mereka yang sakit, lemah, dan terpinggirkan.

